keajaiban sedekah

Sejujurnya menceritakan tentang sedekah ini tidak mudah sama sekali, karena harus meluruskan niat dulu bahwa tujuan saya menulis cerita nyata ini adalah untuk berbagi dan memotivasi sesama bukan untuk tujuan lainnya. Jadi mari kita sama-sama berprasangka baik untuk bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari cerita nyata sedekah yang saya alami ini juga dengan cerita nyata teman-teman blogger lainnya yang melakukan hal yang sama dengan saya.

“ampunkan hamba ya Allah, hamba bukan siapa-siapa tanpaMU, hamba juga tak mungkin bisa bersedekah tanpa rezeki dariMU, semua yang ada pada hamba hanyalah titipan dariMU, dan apa yang hamba lakukan adalah bentuk rasa takut hamba kepadaMU”.

 

sedekah

Begini ceritanya :

Waktu itu, sore hari, saya pulang dari kuliah berjalan sehabis membeli makan malam di warung nasi. Saya sudah melihatnya dari kejauhan, saya tersenyum padanya bermaksud menyapanya dengan jarak tak kurang dari 50 cm benar-benar berpapasan. Apa yang terjadi? jangankan membalas sapaan saya, dia bahkan seperti tak melihat saya. Keesokan harinya, kutanyakan perihal itu pada seorang teman satu kosannya. Saya bilang bahwa saya kesal dan agak marah kenapa selama ini dia baik namun tiba-tiba tidak membalas sapaan saya. Lalu setelah mendengar apa yang sebenarnya terjadi pada kakak kelas kami itu, saya pun menyesal telah sedikit emosi sore itu. Ternyata minus matanya naik lagi, dia mulai tak jelas melihat apalagi kalau sore dan malam.

Singkat cerita akhirnya dia memutuskan untuk menikah. Sang calon istri berasal dari Kuningan, jadi pernikahan akan dilaksanakan disana. Saya dan beberapa teman dekat lainnya diundang, tentu saja kami berniat hadir. Masalah datang ketika dia membutuhkan tambahan biaya untuk melamar dan menikahi sang calon istri. Dia meminjam sejumlah uang kepada saya. Meskipun kondisi saya kala itu cukup, karena saya ketika itu membiayai kuliah S2 saya sebagian besar dari tabungan saya. Setelah berpikir dan mempertimbangkan akhirnya saya meminjamkan sejumlah uang padanya. Saya tak tega menolak karena saya yakin dia memang membutuhkan uang tersebut apalagi ini untuk niat baik.

Pernikahannya pun berjalan lancar, kami para sahabat hadir dan disambut dengan baik oleh pihak keluarga sang istri. Lalu masalah datang ketika kakak kelas saya ini mengalami sakit. Sakit yang luar biasa yang merenggut kemampuan melihat kedua matanya. Saya melihat betapa ia berusaha memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami, betapa dia tegar menghadapi cemoohan orang lain, betapa dia ingin mandiri tanpa ditolong oleh orang lain.

Retinitis pigmentosa itulah nama penyakit mata yang dideritanya. Penyakit mata ini benar-benar membuat dia sulit melakukan apapun termasuk ketika harus menyebrang jalan, dia tak bisa lagi melihat kendaraan yang melintas, tentu saja ini sangat berbahaya sekali. Dia tak bisa lagi melihat orang lain dalam jarak yang sangat dekat terutama jika sore atau malam hari datang. Menabrak pintu masuk karena tak bisa melihat pintu dengan jelas. Dia mulai kehilangan kepercayaan diri, menutup diri dan merasa minder. Sedih dan miris hati ini mendengarnya.

Dia selalu meminta maaf karena belum bisa melunasi uang yang dia pernah pinjam ketika akan menikah dulu. Setelah mendengar semua ceritanya bagaimana mungkin saya mengingat lagi utang itu. Saya butuh uang itu tapi sepertinya dia jauh lebih membutuhkannya daripada saya. Sisa uang yang dipinjamnya itu akhirnya saya tidak tanyai lagi, saya putuskan mengubah sisa utangnya itu sebagai bentuk sedekah saya pada sesama.  Semata-mata hanya ingin mencari keridaan Allah.

***

Apa yang terjadi pada saya?

Saya pernah mengalami beberapa titik dimana saya merasa berada di titik terendah dan titik terbawah dalam hidup saya. Uang tabungan NOL RUPIAH. Kalau hitungan manusia tentu saya disebut jatuh miskin, ya kan?? Tapi karena saya tak pernah ingin memberatkan orangtua. Maka saya putuskan untuk menemukan cara sendiri. Saya merasa di umur segitu saya sudah tak pantas menyusahkan orangtua lagi, orangtua tentu akan menolong anaknya tapi saya harus belajar mandiri.

Saya menawarkan jasa editing tulisan dan membantu riset teman-teman dan alhamdulillah banyak yang mau. Alhamdulillah saya bisa lulus S2 dengan bermacam cara mulai berjualan roger alias roti goreng, dimana jualan saya laku keras. Saya jadi punya ongkos dari hasil jualan itu. Saya bisa membayar uang sewa kos dan makan sehari-hari dari uang hasil jasa editing tulisan. Di akhir perkuliahan, saya terbentur dengan biaya kuliah trisemester akhir. Seorang sahabat malah memberikan uang 5 juta untuk saya pakai dalam kebutuhan kuliah tersebut. Awalnya saya meminjamnya tetapi dia bersikukuh tak mau menerima uang dari saya meskipun saya berniat mencicilnya sedikit-sedikit. Sampai sekarang dianggap lunas oleh dia.

Kemudian ketika akan mengurus ijazah, teman-teman yang lain sedang  sibuk daftar acara wisuda. Saya tidak daftar karena saya lebih baik memikirkan hal setelah lulus S2 ini daripada menghabiskan uang untuk wisuda. Karena acara wisuda harus bayar sekitar 600 rb. Bagi saya itu nilai yang besar, sangat cukup untuk biaya hidup sebulan penuh belum uang sewa kos ya. Tiba-tiba saja seorang sahabat datang dan memberikan uang sejumlah 600rb kepada saya. Pas dengan uang yang dibutuhkan untuk acara wisuda. Dia bilang saya harus ikut wisuda, dia bilang uang itu dari orangtuanya, pokoknya saya harus ikut wisuda. Akhirnya saya bisa ikut acara wisuda karena sahabat saya dan orangtuanya itu.

tolak miskin dengan sedekah

Apakah apa yang saya alami itu adalah keajaiban sedekah?

Mungkin butuh lebih dari sekedar logika untuk memahaminya. Semua pasti seizin Allah. Sampai saat ini saya yakin dan percaya sedekah bukan menjadikan kita miskin namun sebaliknya Allah justru mencukupkan segala yang kita butuhkan bahkan dari arah yang kita tak pernah duga. Saya pernah tidak memiliki sepeser uang pun alias NOL RUPIAH. Tapi saya tidak pernah jatuh miskin, Allah tak membiarkan itu terjadi. Saya yakin sedekah adalah salah satu alasan di balik kemudahan hidup yang saya peroleh itu.

Saya tidak pernah mengingat-ingat berapa, kapan dan kepada siapa saya memberikan sedekah. Karena biasanya saya selalu lekas berusaha melupakan sedekah yang saya berikan agar saya tidak merasa sudah melakukan sedekah. Ada satu yang saya takutkan ketika saya mengingat-ingat sedekah, kuatir ada kesombongan di dalam hati, kuatir tak sengaja membicarakannya kepada orang lain termasuk suami. Jadi, ketika bersedekah sebisa mungkin saya pura-pura tidak pernah melakukannya. Dengan begitu, saya selalu merasa belum bersedekah.

Semoga tulisan ini bisa menginspirasi teman, sahabat dan saudara dimana pun berada. Mari kita terus menolong sesama melalui sedekah karena sedekah akan membukakan banyak pintu kemudahan dalam hidup kita dan menjauhkan kita dari kemiskinan. Janji Allah itu nyata dan saya sudah merasakannya sendiri. Alhamdulillah.

sedekah