bang, kerja donk, masa hari udah siang begini masih aja tidur-tiduran“. Togu, lelaki berusia 37 tahun itu terlihat begitu menikmati hari-hari yang dia habiskan di sebuah kasur tua yang menempel kokoh di lantai rumah kontrakannya. Rima sang isteri kesal setengah mati. kecewa karena lelaki yang dinikahinya setahun kemarin ternyata hanya manis ketika akan mengajaknya menikah lalu tak bisa diandalkan setelah menikah. Bagaimana mungkin, sang kekasih yang sudah mengorbankan pekerjaannya demi menjaga calon buah hati di dalam perutnya yang kini berumur genap 7 bulan harus menelan pil pahit kehidupan. Rumah tangga yang tidak pernah diimpikannya sebelumya. Suami yang tak pernah dibanggakan seperti yang dia ingini. Rima rapuh, lelah atas sifat malas suaminya yang selalu mengandalkan bantuan teman-teman dekatnya. Menjadi pasangan perantau di kampung orang memang tidak semudah yang dibayangkannya.

Tubuh Rima tak lagi kuat untuk bekerja, calon buah hati kesayangan yang bobot badannya kurang dari normal membuatnya harus ekstra menjaga tubuhnya. Belum lagi bidan menyarankannya untuk mengkonsumsi susu, es krim dan makanan manis lainnya guna mendongkrak berat badannya. Menuju kehamilannya yang kedelapan bulan, dia berharap suaminya bisa berubah dan bekerja lebih keras lagi untuk menghidupinya dan menyambut kedatangan sang buah hati. Tak jarang tetangga sebelah rumah memberinya makanan karena merasa kasihan padanya yang makin hari makin terlihat kurus dan tak bertenaga. Bahkan Rima tak pernah mampu untuk mewujudkan keinginannya untuk menambah bobot badan sang buah hati tercinta.

Rima malu, setiap kali dia keluar rumah selalu saja diberi makanan oleh orang-orang. Padahal dia sudah memiliki suami. Suami yang pada kodratnya adalah penanggungjawab kebutuhan keluarga. Namun, sekali lagi Rima sang istri hanya mampu menahan rasa sakit, kecewa dan malu atas kelakuan suaminya. Suaminya Togu hanya menghabiskan waktunya untuk tidur dan selalu mengandalkan bantuan dari para tetangga dan orang-orang sekitar tanpa merasa sedikit pun malu untuk menerimanya. Hidup yang dililit hutang, dapur yang tak pernah ngebul lagi, istri yang semakin kurus, bahkan sang buah hati harus merasakan dampaknya, itu semua hanya dianggapnya sebagai angin lalu. “Besok juga ada yang ngasi makanan“, ucapnya setiap hari pada istrinya.

Tutungma hudonmu, asa adong bolat-bolat” adalah ungkapan metafora pada suku Batak Toba yang bertujuan untuk memberikan motivasi agar senantiasa kita bekerja dan berusaha. “Tutungma hudonmo” artinya “panaskan periukmu” merupakan ajakan agar kita bekerja lebih dulu sebelum makan, “asa adong bolat-bolat“ agar kita bisa memperoleh makanan” menjelaskan hanya orang yang bekerja yang akan memperoleh hasil sehingga menikmatinya. Ungkapan metafora ini sebenarnya bermaksud agar kita tidak menjadi “peminta-minta” dengan mengandalkan orang lain untuk mencukupi kebutuhan hidup termasuk memberi makan. Orangtua biasanya menyampaikan ungkapan tersebut pada anaknya yang akan merantau ke kampung seberang atau ke negeri orang. Ungkapan tersebut pas sekali untuk mengingatkan kita agar bertanggungjawab pada hidup kita dan tumbuh menjadi pribadi yang giat bekerja bukan sebaliknya.

Ingatlah bahwa hidup adalah tanggungjawab. Ketika memutuskan untuk merantau (cukup dewasa) apalagi sudah menikah maka tanggungjawab bukan lagi sekedar untuk diri sendiri tetapi juga isteri dan anak. Bukankah bekerja demi menafkahi isteri dan anak adalah hal yang mulia bagi seorang suami? Bukankah setiap tetes keringat suami yang bekerja untuk membahagiakan isteri dan anaknya akan dibalas dengan kebaikan oleh Sang Pencipta?

“Tulisan ini disertakan dalam Kontes Sadar Hati-Bahasa Daerah harus Diminati”

 

 

sadar hati bahasa daerah harus diminati