Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

“gak ada air kak, semua bak airnya habis, air gak ngalir”, ucap adik ipar saya dengan nada kesal dan kecewa. Pagi itu dia tidak mandi ke sekolah karena air tinggal sedikit dan tidak mungkin dihabiskan untuk sekali mandi. Hanya sikat gigi dan cuci muka seadanya.

“air masih mati? gimana ini nasib kita, mana tanggungjawab pihak pengelola air? seenaknya saja main mati-matiin air!”, keluh saya karena kesal setengah mati terhadap pihak pengelola air yang tidak bertanggungjawab atas kejadian itu.

Sudah beberapa hari ini air di rumah mertua saya mati. Padangsidimpuan, tepatnya tanggal 18 Oktober 2015, hanya tersisa kurang dari seperempat bak ukuran 1,5 m x 1 m air untuk berbagai kebutuhan. Terbayang kan betapa mirisnya dan menderitanya hidup tanpa air yang memadai. Saya langsung teringat pada sumber air yang ada di kota tempat saya bermukim saat ini. Ada apa ya koq sudah beberapa hari ini air tidak mengalir. Saya mulai kuatir dengan keadaan sumber air dan kinerja pihak pengelola air di kota ini.

Sekitar seminggu yang lalu saya telah melahirkan seorang anak perempuan tepat di saat kondisi asap masih menebal plus sekarang ini air pun sulit didapat. Saya tidak pernah menyangka di kehidupan yang sekarang ini, masih terjadi kelangkaan air. Saya pikir itu terjadi hanya di daerah yang kering saja. Ternyata bertolak belakang, disini air justru sulit didapat ketika hujan turun. Padahal mertua saya sudah membangun bak berukuran besar untuk menampung air hujan sehingga ketika air tidak mengalir, masih ada air hujan yang sudah ditampung di bak besar tersebut untuk dapat dipakai. Tetapi tetap saja, tidak akan cukup jika air tidak mengalir selama hampir 5 hari. Dengan banyaknya kebutuhan terhadap air, tampungan air di bak besar pun mungkin masih kurang. Air menjadi langka sementara hidup harus terus berjalan. Keadaan seperti ini tentu menjadi masalah serius, karena kita tak bisa hidup tanpa air.

Perlunya Pelestarian Lingkungan dan Air untuk Atasi Kelangkaan Air

Penyebab air menjadi langka sebenarnya bisa banyak hal. Namun salah satunya dan yang sering dilupakan adalah lingkungan dan air yang sudah tidak lestari lagi. Kenapa bisa tidak lestari? jawabannya ada pada kita sendiri. Salah satunya adalah kebiasaan buruk, membuang sampah dimana-mana terutama di sungai dan Daerah Aliran Sungai (DAS). Air adalah komponen dari lingkungan karenanya air tak dapat dipisahkan dari lingkungan. Secara langsung dapat kita artikan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi kelestarian lingkungan adalah kelestarian air. Jika air dalam keadaan baik maka lingkungan pun akan baik sebaliknya jika air dalam keadaan tidak baik maka bisa dipastikan kondisi lingkungan juga sedang tidak baik. Semakin banyak kita mencemari air semakin besar kemungkinan lingkungan tidak lestari. Semakin tidak lestari lingkungan maka akan semakin sulit kita menemukan air yang layak dikonsumsi. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, jumlah air tawar yang dapat digunakan oleh seluruh penduduk di muka bumi ini hanya 2,5 %, yang dapat dikonsumsi hanya 1 % yaitu berupa air tanah dan sebagian kecil berada di atas permukaan tanah dan udara. Sekali lagi hanya 1 %!

Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

Air tanah sendiri dibagi dalam 2 bagian yaitu :

1. Air permukaan tanah

Air permukaan tanah ini sangat tergantung pada air hujan. Yang termasuk air permukaan tanah adalah sungai, rawa-rawa, danau, waduk (buatan). Menurut sebuah penelitian, air permukaan inilah yang paling banyak dicemari oleh sampah keluarga, kotoran hewan, limbah industri dan limbah domestik.

2. Air jauh dari permukaan terdiri dari :

a. Air bawah tanah adalah air yang tersimpan dalam lapisan tanah yaitu : air sumur gali dan air sumur bor.

b. Mata Air adalah tempat dimana air tanah keluar ke permukaan tanah, keluarnya secara alami dan biasanya terletak di lereng-lereng gunung dan sepanjang tepi sungai.

Ketiganya baik air permukaan tanah, air bawah tanah maupun mata air tidak selalu memenuhi syarat kesehatan. Karena ketiganya sangat mungkin tercemar.

Pencemaran air menurut Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor : KEP-02/MENKLH/I/1988 Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah : masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi atau komponen lain ke dalam air sehingga menyebabkan berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh peruses alam sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air menjadi kurang atau sudah tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (pasal 1).

Kebutuhan Versus Kesadaran

Pada dasarnya masyarakat Indonesia memang menggunakan air yang berasal dari air permukaan tanah seperti di kota Padangsidimpuan (rumah mertua saya) juga termasuk di kota Bogor daerah Katulampa yang berupa sungai. Bendung Katulampa awalnya bernama Katoelampa-Dam. Dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1912. Bendung karya Ir Van Breen yang melintang sepanjang 74 meter ini dulunya bertujuan sebagai pintu irigasi sawah seluas 5.000 hektare yang berada di sekitar bendung tersebut. Selain itu, tujuan dibangun lainnya adalah sebagai pemasok air baku untuk warga ibu kota.

Bendung Katulampa (Sumber gambar : Bisnis.com)

Bendung Katulampa (Sumber gambar : Bisnis.com)

Sayangnya, sungai dari bendung Katulampa yang tadinya bisa menjadi sumber air jika dikelola dengan benar justru dijadikan tempat terfavorit untuk buang sampah. Masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai bendung Katulampa misalnya, masih menggunakan air tersebut untuk berbagai kebutuhan termasuk mencuci pakaian, mandi, kakus dan lain-lain. Di sisi lainnya, masyarakat juga rajin sekali menghiasi sungai dan selokan dengan sampah rumahtangga. Aneh tapi nyata. Airnya dipakai tapi juga dikotori.

kelestarian lingkungan dan air

Daerah Aliran Sungai yang Dihiasi Sampah (Dok.pri)

Minimnya kesadaran masyarakat untuk tidak mengotori sungai sebagai salah satu sumber air menjadi salah satu penyebab tercemarnya lingkungan. Padahal masyarakat masih bergantung pada sungai tersebut, bukannya dijaga malah dikotori. Ini fenomena yang inti masalahnya itu-itu juga. Tidak ada kesadaran dan rasa tanggungjawab. Air selokan di pinggir jalan daerah Parung Banteng kota Bogor ini misalnya, masyarakat terlihat masih memanfaatkan airnya untuk mencuci padahal di sebelahnya persis ada sampah bahkan di dalam selokannya banyak sampah yang dibiarkan begitu saja. Sungguh pemandangan yang kurang sedap dipandang mata. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya sampah adalah penyebab tercemarnya lingkungan dan air.

lingkungan dan air

Masyarakat memanfaatkan air untuk mencuci (Dok.pri)

Sampah yang dibuang di sungai atau selokan dapat meluap dan menyebabkan banjir. Kalau sudah banjir, penyakit berdatangan, barulah terasa betapa ruginya tidak menjaga lingkungan. Kalau air sudah kotor, langka, kesulitan pun berdatangan, barulah merasa menyesal mengapa tidak menjaga sungai dan sumber air lainnya sejak awal. Sayangnya, itu pun tidak membuat jera masyarakat. Masih ada saja yang mengulangi kembali perbuatannya dan tidak peduli dengan efek jangka panjangnya. Bahkan sampai selokan mampet seperti gambar di bawah ini, masyarakat tampaknya kurang peduli terhadap risiko mampetnya selokan. Kebersihan lingkungan masih dinomorsekiankan. Seperti yang terjadi di selokan salah satu pinggir jalan daerah Parung Banteng kota Bogor ini.

kelestarian lingkungan dan air

Sampah di Selokan (Dok.pri)

Walk Hand in Hand adalah Solusinya

Kita semua adalah bagian dari masyarakat. Pemerintah, perusahaan pengelola air, pelestari lingkungan, perusahaan yang memanfaatkan air semuanya punya peranan masing-masing dalam menjaga kelestarian lingkungan dan air di Indonesia. Kalau perusahaan pengelola air sudah memberikan fasilitas air bersih tentu tanggungjawab masyarakat adalah merawatnya dengan baik dan menggunakannya dengan bijak. Kalau pemerintah sudah membuat peraturan maka kita sebagai masyarakat haruslah mematuhinya. Ada juga perusahaan pemanfaat air seperti Aqua Grup yang sudah melakukan pelestarian DAS (Daerah Aliran Sungai) maka kita pun sebagai masyarakat seharusnya bisa melakukan hal yang sama sebagai rasa tanggungjawab kita dalam memanfaatkan sungai atau sumber air lainnya.

Infografis (Ilustrasi oleh Rodame)

Infografis (Ilustrasi oleh Rodame)

Artinya walk hand in hand antara pemerintah, pihak pengelola air, perusahaan pemanfaat air, LSM, pecinta lingkungan dan masyarakat sangat mungkin kita lakukan demi kelestarian lingkungan dan air. Tentu saja selama masing-masing dari kita memiliki kesadaran dan memahami peranannya masing-masing sehingga memiliki rasa tanggungjawab atas perbuatannya.

Walk hand in hand juga bermakna :

1. Berjalan atau bergerak bersama-sama alias move on, dimana seluruh pihak merasa bahwa kelestarian lingkungan dan air adalah tugas bersama sehingga harus dilakukan secara bersama ke arah yang lebih baik. Tidak ada yang lebih hebat, tidak ada yang menjadi tuan atau bos. Seluruh pihak sama posisinya, sama tujuannya, sama-sama menginginkan lingkungan dan air yang lestari. Karenanya semua pihak harus berusaha mencari solusi dari masalah lingkungan dan air.

2. Beriringan sehingga seluruh pihak yang terlibat dalam memanfaatkan lingkungan dan air yang ada di muka bumi ini merasa sama-sama saling melengkapi dan saling membutuhkan satu sama lain. Bukan sebaliknya, saling tuduh atau todong satu sama lain. Semua pihak harus bijak menjalankan peranannya masing-masing, agar apa yang sudah ada dapat dirawat dan apa-apa yang belum dilakukan untuk melestarikan lingkungan dan air dapat segera dipraktikkan.

Kalau kita perhatikan, air selokan yang bersih pada dasarnya masih bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk hal lainnya seperti membuat perangkap ikan. Salah satu perangkap ikan yang tampak oleh saya ini adalah milik masyarakat setempat yang tinggal di daerah Parung Banteng kota Bogor. Beberapa kali, masyarakat kedapatan sedang panen ikan hasil perangkap. Awalnya ikan masuk ke dalamnya dalam keadaan yang masih kecil lalu lama-kelamaan bertumbuh dan menjadi besar. Sayangnya di sekelilingnya masih terlihat banyak sampah bahkan hingga ke dasar air selokan. Sepertinya sudah lama menumpuk hingga sampah berada di dasar air selokan. Ini merupakan bukti lainnya kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

lingkungan dan air

Memanfaatkan Air Selokan untuk Perangkap Ikan (Dok.pri)

Selain masalah sampah yang mencemari lingkungan dan sungai sebagai salah satu sumber air masyarakat Indonesia. Hal lainnya yang menjadi penyebab menurunnya kualitas air tanah adalah pengambilan air tanah yang berlebihan. Menurut sebuah penelitian, di ibukota Jakarta misalnya, penyebab utama menurunnya kualitas air tanah adalah pengambilan air tanah yang berlebihan. Artinya, demi melestarikan lingkungan dan air selain tidak boleh mencemarinya juga tidak boleh mengambil atau memanfaatkannya secara berlebihan. Karena terbukti pengambilan air tanah yang berlebihan justru menjadi penyebab menurunnya kualitas air tanah. Bisa dibayangkan, jika kualitas air tanah menurun, tentu akan semakin tidak layak dikonsumsi. Jika air tanah yang berkualitas tidak tersedia dalam jumlah yang memadai terjadilah kelangkaan air. Ini bisa jadi mimpi buruk untuk kita semua. Oleh karena itu, ambilllah air tanah seperlunya, setelah itu lakukan perawatan seperti pakailah air secara bijak, membuat resapan air, menanami lahan terbuka dengan pepohonan, mengurangi sampah rumahtangga dengan mendaurulangnya sendiri dan membersihkan DAS seperti yang telah dilakukan oleh Aqua Grup agar lingkungan lestari dan air tanah yang berkualitas senantiasa tersedia hingga ke anak cucu kita kelak.

Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

Infografis (ilustrasi oleh Rodame)

Air adalah Kehidupan

Tubuh kita, 60 %-nya terdiri dari air. Tubuh kita bahkan memerlukan air setidaknya 1,5 liter sehari. Apapun kegiatan manusia baik untuk memasak, mencuci pakaian, mandi dan lain sebagainya semuanya memerlukan air. Bahkan jika kita tidak mengkonsumsi air yang sehat, tubuh kita bisa terserang penyakit. Air sangat penting untuk menjaga kesehatan manusia.

Diperkirakan tahun 2025, 1,8 juta orang akan hidup dalam kelangkaan air. Sekitar 2/3 dari jumlah penduduk yang ada di bumi akan berada dalam wilayah water-stressed. Karena penggunaan air pun juga meningkat dua kali lipat dari peningkatan jumlah penduduk di bumi. Bagaimanapun air adalah kebutuhan kita bersama. Air adalah bagian dari kehidupan kita dimana lingkungan yang lestari sangat diperlukan agar kualitas air terjaga hingga ke anak cucu kita. Menyalahkan salah satu pihak tidaklah adil karena pada kenyataannya seluruh lapisan masyarakat berperan penting dalam melestarikan lingkungan dan air.

Saya yakin dengan kerjasama semua pihak, kita walk hand in hand seterusnya demi kelestarian lingkungan dan air. Kesadaran tidak bisa dipaksakan karena kesadaran harus datang dari dalam diri masing-masing. Jika tahu tidak mungkin hidup tanpa air, jika sayang pada anak cucu, maka mari sadarkan diri, keluarga dan orang-orang sekitar kita untuk tidak mengotori lingkungan dan sungai.

lingkungan dan air lestari

Sampah di Dasar Selokan Tanda Lingkungan Kotor (Dok.pri)

Referensi :

  • http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33658/4/Chapter%20II.pdf
  • http://lovelybogor.com/bendung-katulampa-bukan-bendungan-lho/
  • http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-78875.pdf
  • http://www.globalchange.umich.edu/globalchange2/current/lectures/freshwater_supply/freshwater.html
  • http://environment.nationalgeographic.com/environment/freshwater/freshwater-crisis/
  • http://www.republika.co.id/berita/koran/news-update/14/01/20/mznqfn-bendung-katulampa-beton-belanda-yang-istimewa