“Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat.”(HR. Muslim)

Siapa yang tidak suka hidup bergelimangan harta?

Siapa yang tidak ingin hidup terpandang dan bermartabat?

Siapa yang tidak mau selamat dunia dan akhirat?

Saya sangat yakin, bahkan 100 % yakin, semua orang pasti ingin menjalani hidup yang enak dan bahagia selama di dunia dan akhirat. Kalau kata Slank dalam sebuah lirik lagunya “muda terkenal, tua kaya raya mati masuk surga”. Ada berbagai jalan yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan dalam hidup kita termasuk dengan melakukan perkara-perkara yang dibenci oleh jiwa.

Saya pernah bertanya dalam diri saya, semua yang Allah ijinkan kita miliki selama di dunia ini akan diapakan? Harus diapakan? Paling sederhana, contohnya adalah gaji. Setiap bulan saya dapat gaji, meskipun nominalnya memang tidak besar tapi bagi saya gaji itu sangat berharga. Berasal dari keringat, air mata dan kejujuran. Pernah suatu ketika, bendahara yang bertugas membagikan gaji memberi saya kelebihan seribu rupiah, iya seribu saja. Sangkin takutnya memakan hak orang lain, meskipun hanya seribu rupiah langsung saya rogoh isi tas saya dan kembalikan uang kelebihan tersebut. Meskipun sebenarnya si petugas mengatakan tidak mengapa, tapi hati kecil saya menolak perbuatan tersebut. Meski agak kaget, dia akhirnya menerima kelebihan uang seribu rupiah tersebut. Saya sempat berkata kepada beliau “meskipun seribu tapi ini bukan hak saya, maka saya harus mengembalikannya”.

Cerita itu kalau dianalogikan dengan menabung di bank konvensional cukup mirip. Cara sederhana yang bagi saya sangat membantu dalam memahami konsep bunga di bank konvensional. Iya, sekarang ini kita dihadapkan dengan pilihan. Menabung di bank konvensional dengan bunga bank yang besar atau menabung di bank syariah tanpa bunga hanya bagi hasil atau bahkan hanya menitipkan uang saja tanpa biaya admin dan bagi hasil.

Bank sekarang ini sudah menjadi pilihan yang baik untuk menyimpan uang. Fungsi bank memang dasarnya adalah untuk menyimpan uang masyarakat, hanya saja bank memberikan bunga berupa tambahan uang setiap bulannya ke rekening milik nasabah dalam rangka memberi keuntungan bagi nasabah yang sudah menabung di bank tersebut. Konsep bunga memang hanya ada di bank konvensional, bunga tidak dikenal di bank syariah. Jadi, jelas sekali siapapun yang ingin mendapatkan keuntungan besar dengan menabung maka pilihannya adalah bank konvensional. Sedangkan mereka yang lebih memikirkan masalah riba dan ingin menghindarinya, karena ingin mendapatkan ketenangan hidup tentu akan memilih bank syariah.

Semua bank termasuk bank syariah sekarang ini sudah berada di dalam pengawasan OJK. OJK adalah lembaga yang terbentuk atas dasar kesepakatan bersama pemerintah Indonesia, yang bersifat independen juga bebas dari campur tangan pihak lain. OJK berperan juga dalam mencapai dan menjaga kestabilan nilai rupiah. OJK disahkan oleh DPR pada tanggal 27 Oktober 2011 dan tertulis dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan dalam Lembaran Negara Republik. Keberadaan OJK adalah bukti bahwa pemerintah benar-benar memperhatikan kepentingan negara dan masyarakat yang menyimpan uangnya di bank.

Sebagai seorang muslimah, meskipun itu baru beberapa tahun terakhir ini, sebenarnya saya sudah memilih bank syariah sebagai bank yang saya percayai untuk menyimpan uang jauh sebelum saya mengenal Islam dan prinsip syariah dengan baik (jadi curhat di blog nih, tapi saya jujur loh ini memang apa adanya). Saya jatuh cinta pada bank syariah pertama di Indonesia ini karena tidak adanya biaya bulanan yang dibebankan kepada nasabah. Dulu saya tidak tau menau masalah riba, yang saya tau, bank yang baik itu adalah yang tidak membebani nasabahnya dengan biaya admin bulanan. Jika tiap bulan saya harus mengeluarkan biaya admin dan lain-lain saat menyimpan uang di bank konvensional, maka itu tidak saya alami di bank syariah tersebut. Pasti sudah pada tau kan, Bank syariah pertama di Indonesia yang saya maksud itu apa? Yes, betul sekali, dialah Bank Muamalat. Saya memang tidak dapat bunga besar seperti di bank konvensional, tapi saya dapat ketenangan selama menabung di bank syariah. Saya tidak memikirkan nominal bagi hasilnya, saya hanya memikirkan ‘bagaimana mengurangi beban’ selama menyimpan uang di bank. Dan bank syariah memberikan saya ‘solusi’.

cintakeuangansyariah

Produk Bank Muamalat (Dok. Rodame)

Waktu itu, hal yang pertama kali saya rasakan adalah rasa tenang saat menyimpan uang tanpa kuatir uang akan berkurang. Bank syariah datang di saat yang tepat, saat saya membutuhkan solusi dari masalah yang saya alami. Meskipun kemudian saya tidak lagi melanjutkan menyimpan uang di bank tersebut karena dulu masih sangat sulit menemukan banknya di berbagai tempat, bahkan ATM-nya masih sangat minim. Lokasi bank-nya dulu pun masih jauh sehingga saya kesulitan dalam melakukan berbagai transaksi. Terkadang bahkan ketika orang lain ingin mentransfer sejumlah uang mereka menolak mengirim ke rekening bank syariah tersebut karena merasa membebani mereka dengan biaya lain-lain. Akhirnya saya menabung di bank konvensional, dengan sangat terpaksa. Karena bank konvensional tersebut, sangat mudah diakses dan berada dekat dengan saya.

Sampai akhirnya saya terdampar dan kembali ke kampung halaman, Padangsidimpuan, dimana saya, suami dan anak-anak kini tinggal bersama ibu mertua dan keluarga. Saya akhirnya kembali membuka tabungan di bank syariah yaitu Bank Muamalat. Kali ini memang berbeda, saya tidak hanya menyimpan uang untuk sekedar saya pribadi, kini saya membuka tabungan untuk kedua buah hati saya. Tabungan Muamalat Rencana yang niatnya adalah untuk dana pendidikan mereka di kemudian hari. Tabungan tersebut jatuh temponya 2 tahun yang akan datang, saya memang sengaja memilih jangka waktu tersebut karena anak-anak masih balita dan waktu ini sangat pas untuk menabung biaya pendidikan mereka agar tidak bisa diambil sesuka hati, maka saya pilih yang berjangka. Aman dan terkendali.

Seperti yang kita tau, di tabungan tersebut ada bagi hasilnya, biaya admin pun hanya seribu rupiah setiap bulan (boleh pilih yang tabungan reguler dimana jika nilai tabungan satu juta rupiah tidak dikenakan biaya admin atau bisa juga pilih yang ‘Tabunganku’ sistemnya wadiah alias menitip jadi tanpa biaya admin juga tanpa bagi hasil). Bagi hasil berlaku di semua bank syariah. Bagi hasil di perbankan syariah prinsipnya adalah PLS alias Profit-Loss Sharing. Apa maksudnya? Maksudnya adalah prinsip tolong-menolong. Bagaimana penerapannya? Begini, biasanya orang memberikan sesuatu ketika dia juga merasa cukup dan senang, sebaliknya jika dalam keadaan susah biasanya orang akan sulit memberi sesuatu kepada orang lain apalagi mau menanggung kesusahan orang lain. PLS adalah konsep dimana baik dalam suka maupun duka, ditanggung bersama. Nasabah dirugikan, bank syariah juga ikut menanggung sementara itu kalau menguntungkan jelas akan dibagi bersama sesuai dengan ‘akad’ atau perjanjian. Luar biasa kan ya? PLS ini hanya ada di perbankan syariah. Ini baru tepat disebut dengan manusiawi. Karena konsep PLS itu benar-benar meringankan dan menolong.

Alhamdulillah, sampai sekarang saya rutin menyisihkan penghasilan untuk langsung dimasukkan ke tabungan Muamalat Rencana milik kedua anak saya. Meski baru berjalan beberapa bulan tapi saya optimis dan berniat ingin terus melanjutkannya. Bukan soal nominalnya berapa yang disimpan, ini soal belajar menabung dan merencanakan masa depan anak-anak dengan prinsip dan cara yang benar yaitu syariah. Jangan salah kaprah ya, prinsip syariah ini bukan berarti dikhususkan untuk mereka yang muslim saja loh ya, karena prinsip syariah yang diterapkan dalam perbankan syariah adalah prinsip yang baik untuk semua orang, tidak ada pihak yang dirugikan dimana uang yang disimpan dikelola di tempat yang baik untuk hal-hal yang baik juga. Tentu saja, siapapun ingin mendapatkan kebaikan dengan melakukan prinsip syariah tersebut, ya kan? Kenapa saya bilang begitu? Karena sampai saat ini sepertinya masih banyak yang salah kaprah tentang definisi ‘syariah’ dalam perbankan maupun non perbankan syariah.

Meski sempat terhenti menabung di bank syariah, namun akhirnya saya kembali lagi bahkan kini membawa dua balita saya. Saya juga sangat yakin edukasi prinsip syariah dan memulai kebiasaan baik harus dimulai sejak dini, ini merupakan bagian dari tanggungjawab saya sebagai orangtua. Rintangan menuju jalan yang baik memang tidak mudah. Apalagi kita diperhadapkan dengan berbagai kecanggihan dan modernitas bank-bank konvensional yang ada saat ini. Saya sangat berharap ke depannya bank syariah melakukan beberapa pengembangan sebagai berikut ini :

  1. Memperluas cakupan wilayah dengan memperbanyak cabang bank di berbagai daerah termasuk di pelosok hingga desa. Saya merasakan sendiri di kota Padangsidimpuan ini misalnya, hanya ada satu cabang bank syariah yang letaknya di kota sementara itu bagi yang tinggalnya jauh dari kota akan sulit mengakses bank syariah.
  1. Mengembangkan konsep pemasaran yang tidak hanya berbasis offline (secara fisik melalui tatap muka) tetapi juga online (ATM, website, mobile). Tenaga pemasar seperti sales marketing memang masih bermanfaat dalam menyebarkan informasi produk dan jasa perbankan syariah, namun jika tidak dibarengi dengan e-marketing akan sangat disayangkan. Padahal kita tau bahwa saat ini jumlah pengguna internet sangat besar bahkan meningkat dari tahun ke tahun. Bank syariah yang memiliki website (internet banking) dan mobile banking masih terbatas hanya pada bank-bank syariah yang besar/terkenal saja sementara itu bank syariah yang belum banyak dikenal masyarakat masih belum memanfaatkan teknologi internet secara optimal.
  1. Menjemput bola. Prinsip menjemput bola ini adalah dalam rangka memberikan sosialisasi, mengedukasi dan mendekatkan diri pada masyarakat. Kalau hanya menunggu dan membiarkan alam yang bekerja tentu tidak akan maksimal hasilnya. Menurut saya, pihak bank syariah sebaiknya melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah, kampus (perguruan tinggi, akademisi, institusi), desa-desa bahkan perkumpulan/organisasi yang ada untuk mulai mengedukasi masyarakat tentang prinsip syariah. Pihak bank syariah juga menjemput bola yaitu dengan melakukan bank keliling sehingga siapapun yang tak sengaja lewat bisa langsung buka rekening bank, tanpa dipersulit. Jadwal bank keliling pun baiknya disosialisasikan agar masyarakat mengetahuinya. Ini akan sangat membantu masyarakat dalam membuka diri terhadap keberadaan bank syariah. Bank syariah juga bisa ikut menjadi sponsor dalam film-film religi atau kegiatan yang berkaitan dengan prinsip syariah untuk sekaligus meningkatkan awareness masyarakat terhadap bank syariah.
  1. Membuka produk tabungan emas. Saya sangat suka dengan salah satu jasa industri keuangan non bank syariah seperti pegadaian syariah, dimana nasabah bisa memiliki tabungan emas. Saya sangat berharap produk tabungan emas ini bisa ada di berbagai bank syariah lainnya sehingga mereka yang ingin berinvestasi emas bisa tersalurkan tanpa melanggar prinsip syariah.
  1. Transparansi dalam pengelolaan simpanan nasabah. Selama ini saya masih mendengar kabar ada beberapa bank syariah yang belum murni syariah. Hal ini sangat menganggu sekali karena jelas akan mempengaruhi minat masyarakat yang ingin menggunakan jasa perbankan syariah. Meskipun itu banyak disangkal oleh pihak bank syariah, sebagai nasabah bank syariah, saya pun sangat berharap transparansi dari pihak bank syariah perihal pengelolaan simpanan masyarakat yang menjadi nasabah di bank syariah tersebut. Memang prinsip kepercayaan juga ada tapi tidak ada salahnya jika bank syariah meyakinkan kepada masyarakat bahwa semua bank syariah benar-benar sudah melakukan hal-hal yang sesuai prinsip syariah. Ini untuk memperbaiki citra/image dari bank syariah di mata masyarakat.

Kalau bank konvensional berani menunjukkan gadingnya akan keuntungan yang berlimpah dan berbagai hadiah yang ‘waw’ yang sifatnya jelas duniawi, kenapa bank syariah tidak berani mengatakan keselamatan dunia dan akhirat yang inshaallah bisa diperoleh dengan menghindari riba. Surga memang milik Allah dan semata-mata hak Allah, tapi manusia boleh berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan untuk mendapatkan ridho Allah, ya kan? Manusia bahkan boleh ‘iri’ untuk berlomba-lomba melakukan hal baik yang sesuai perintah Allah tersebut. Maka tunggu apa lagi? Menjadi bagian dari perbankan syariah adalah salah satu jalan kebaikan menuju impian akhir yaitu surga. Saat ini saya memang baru sekedar pemimpi, biarlah Allah yang Maha Tahu akhir dari semua usaha dan perjuangan ini. Pasti tidak mudah, kita hanya perlu yakin bahwa bagaimanapun ‘syariah’ memang lebih baik.

Yuk mulai dengan ‘yang syariah’ inshaallah berkah!